Kebun di Atas Gedung Pencakar Langit
Kota-kota megapolitan dianggap sebagai kota impian dimana semua fasilitas tersedia dan segala hal menjadi mudah. Namun, benarkah kehidupan megapolitan dengan gedung pencakar langitnya tersebut bisa membuat penduduknya merasa tenang? Seorang warga Shanghai melakukan survei kecil-kecilan kepada masyarakat Shanghai. Hasilnya, 65 persen dari responden mengaku ingin sekali memiliki kebun, tetapi tidak memiliki lahan. Artinya, mereka jenuh dengan kehidupan perkotaan yang sempit karena keberadaan gedung pencakar langit dan ketiadaan akses jalur hijau (tanaman di sela-sela gedung) sehingga kota tampak dingin, angkuh, dan tidak bersahabat kepada warganya.
Hal ini yang melatarbelakangi Huang Ke membuat desain kebun di atas gedung pencakar langit. Ia terinspirasi dari gedung-gedung pencakar langit yang memiliki lahan kosong di atasnya. Jika dimanfaatkan dengan benar, puncak gedung pencakar langit tersebut bisa menjadi kebun-kebun yang cantik. Bahkan, banyak bisnis baru bisa dibangun dari sana.
Proyek yang dibuat Huang Ke dinamakan V-Roof. Dari proyek tersebut, ia mendesain sebuah taman atau kebun mini di atap gedung pencakar langit, yang sekaligus juga bisa menjadi tempat resapan air layaknya kebun di tanah biasa. Selain itu, kebun-kebun tersebut bisa ditanami sayur-sayuran dan buah-buahan untuk dikembangkan pada agrobisnis.
Sebagian tanah lainnya menjadi taman bunga yang dilengkapi dengan kursi taman. Kafe-kafe kecil yang menjual berbagai jus buah juga bisa didirikan di tempat itu.
“Para karyawan gedung yang stress dengan computer, bisa naik ke puncak gedung dan menikmati udara segar. Mereka bisa mengobrol di taman, lalu minum jus buah, dan pulangnya membeli sayuran segar untuk dimasak di rumah,” jelas Huang Ke dalam presentasi di ruang sinema perpustakaan Universitas Indonesia (UI) Depok, Minggu (2/9/2011).
Impiannya adalah ingin membuat Shanghai lebih hijau dan lebih bersahabat, jauh dari polusi. “Proyek ini juga bisa diterapkan di Negara lain, dan saya berharap bisa berguna bagi dunia, terutama yang punya masalah dengan gedung pencakar langit dan polusi,” ungkap Huang Ke.
Huang Ke adalah satu dari 7 peserta E-Idea yang berasal dari 7 Negara yang mempresentasikan ide kreatif mereka seputar pelestarian lingkungan. Acara yang diadakan British Council ini memberi kesempatan kepada tujuh dari 40 partisipan untuk mempresentasikan produk mereka di hadapan mahasiswa UI Depok.
“Presentasi para partisipan diharapkan mampu memberikan inspirasi bagi mahasiswa Indonesia bahwa banyak hal di sekeliling kita, bisa dimanfaatkan untuk pelestarian lingkungan,” ujar Huw Oliphant, Head of Science and Environment British Council usai acara berlangsung.
Hal ini yang melatarbelakangi Huang Ke membuat desain kebun di atas gedung pencakar langit. Ia terinspirasi dari gedung-gedung pencakar langit yang memiliki lahan kosong di atasnya. Jika dimanfaatkan dengan benar, puncak gedung pencakar langit tersebut bisa menjadi kebun-kebun yang cantik. Bahkan, banyak bisnis baru bisa dibangun dari sana.
Proyek yang dibuat Huang Ke dinamakan V-Roof. Dari proyek tersebut, ia mendesain sebuah taman atau kebun mini di atap gedung pencakar langit, yang sekaligus juga bisa menjadi tempat resapan air layaknya kebun di tanah biasa. Selain itu, kebun-kebun tersebut bisa ditanami sayur-sayuran dan buah-buahan untuk dikembangkan pada agrobisnis.
Sebagian tanah lainnya menjadi taman bunga yang dilengkapi dengan kursi taman. Kafe-kafe kecil yang menjual berbagai jus buah juga bisa didirikan di tempat itu.
“Para karyawan gedung yang stress dengan computer, bisa naik ke puncak gedung dan menikmati udara segar. Mereka bisa mengobrol di taman, lalu minum jus buah, dan pulangnya membeli sayuran segar untuk dimasak di rumah,” jelas Huang Ke dalam presentasi di ruang sinema perpustakaan Universitas Indonesia (UI) Depok, Minggu (2/9/2011).
Impiannya adalah ingin membuat Shanghai lebih hijau dan lebih bersahabat, jauh dari polusi. “Proyek ini juga bisa diterapkan di Negara lain, dan saya berharap bisa berguna bagi dunia, terutama yang punya masalah dengan gedung pencakar langit dan polusi,” ungkap Huang Ke.
Huang Ke adalah satu dari 7 peserta E-Idea yang berasal dari 7 Negara yang mempresentasikan ide kreatif mereka seputar pelestarian lingkungan. Acara yang diadakan British Council ini memberi kesempatan kepada tujuh dari 40 partisipan untuk mempresentasikan produk mereka di hadapan mahasiswa UI Depok.
“Presentasi para partisipan diharapkan mampu memberikan inspirasi bagi mahasiswa Indonesia bahwa banyak hal di sekeliling kita, bisa dimanfaatkan untuk pelestarian lingkungan,” ujar Huw Oliphant, Head of Science and Environment British Council usai acara berlangsung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar